Home » » Memotivasi Karyawan Berbuat Salah

Memotivasi Karyawan Berbuat Salah

Written By Admin on Sabtu, 22 Januari 2011 | 07.22

MINGGU lalu, saya terlibat diskusi menarik dengan seorang eksekutif asuransi. Ia berkata, agen terbaiknya kebanyakan orang yang pernah gagal. Makin dalam kegagalan seseorang, makin besar kemungkinan suksesnya. Biasanya orang-orang seperti itu ibarat kata pernah mengalami hal terburuk, atau pernah merasakan dasar jurang paling dalam dan gelap.

Motivasinya untuk bangkit dan sukses besar sekali. Dengan semangat baja, mereka maju bak lokomotif berkecepatan tinggi. Ada sebuah buku kecil, dikarang Richard Parson dan Ralph Keyes. Judulnya edan " Whoever makes the most mistakes wins" -- siapa yang membuat kesalahan terbesar biasanya menjadi pemenangnya. Sesuatu yang amat bertentangan, bukan? Richard Parson adalah dokter dalam ilmu psikologi. Ia pernah jadi perwira angkatan laut dan dosen. Ralph Keyes adalah penulis yang inovatif.

Mereka menganjurkan agar Anda memotivasi karyawan berbuat salah. Metode ini disebutnya productive mistake-making. Yaitu membuat kesalahan yang produktif. Richard mengutip sejumlah kasus perusahaan yang dikenal inovatif, seperti Xerox dan Polaroid. Mereka mudah kehilangan daya imajinasinya karena bertahan pada sukses-sukses sebelumnya.
 
Perusahaan seperti Coca-Cola justru bangkit dari kubur karena kesalahan besarnya saat meluncurkan New Coke. IBM juga tahan banting karena pernah diterpa sejumlah masalah, yang memaksanya melakukan reinventing. Anda mungkin akan garuk-garuk kepala, dan mengatakan teori ini mustahil benar. Namun, bila Anda urut, sejumlah kejadian dalam kehidupan ini justru ditopang kesalahan yang kita buat. Richard Parson menyebutnya paradoks inovasi. Intinya, memotivasi orang berbuat kesalahan yang produktif.

Menurut Richard Parson, kesalahan biasanya terjadi tanpa sengaja. Kesempatan belajar dan berinovasi akan terbatas kalau kesalahan cuma dating sesekali. Parson menyarankan agar secara sistematis kita memotivasi karyawan terjun berbuat salah, supaya inovasi berjalan sistematis dan teratur. Di sini triknya. Mana ada bos yang gegabah dan tega memotivasi anak buahnya berbuat salah, bukan untuk sukses? Jelas sangat edan!

Di dalam bukunya, Parson dan Keyes mencontohkan John Wooden, pelatih basket di University of California Los Angeles, Amerika. Selama 27 tahun sebagai pelatih, John tak pernah kalah satu musim kompetisi pun. Ia pernah menggiring timnya menang piala bergengsi kejuaraan olahraga antarperguruan tinggi (NCAA) selama 10 kali, tujuh kali di antaranya berturut-turut.

Tekniknya memotivasi tim sangat unik. Ia menggunakan jurus productive mistake-making. Ia mengajak anak buahnya bermain habis-habisan. Menang atau kalah, menurut dia, cuma efek sampingan. Kalau mainnya bagus, menang menjadi proses alamiah.

Hal sama dialami pelatih beken Phil Jackson, dari LA Lakers. Mulanya ia terobsesi menang sebagai hasil akhir. Lewat sejumlah pengalaman religius, ia berubah. Ia berkata, sukses akan terjadi bila Anda memiliki kesadaran penuh dan menyatu dengan semua peristiwa di sekeliling Anda. Sama dengan John Wooden, ia menganggap menang cuma efek sampingan.

Metode ini membuatnya mampu mencetak pemain sekaliber Michael Jordan, Kobe Bryant, dan Shaquille O'Neal. Phil Jackson menjadi pelatih basket termahal dalam sejarah.

Memotivasi karyawan untuk berbuat kesalahan secara sistematis rasanya memang ide gila. Namun, Parson dan Keyes menulis, sukses dan gagal persis sama dengan prinsip zen soal terang dan gelap. Yaitu sukses tak akan ada tanpa kegagalan. Gagal tak akan pernah ada kalau tak ada sukses. Kita membutuhkan keduanya. Daripada kegagalan menjadi beban, Parson dan Keyes menganjurkan agar kita menggunakan kegagalan, dan kesalahan, sebagai motivasi yang produktif.

0 komentar:

Posting Komentar

Masukkan comment anda tentang Keep on Moving, Sharing artikel menarik, Artikel indonesia, Artikel luar negri, new article, old article, Penemuan, Discovery, Serba Serbi, disini.

Please Bantu Saya, Like This !!!

×

and

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.